Hati Tanpa Sudut

from http://lebahcerdas.blogdetik.com

Ini kisah nyata, dari seorang teman.

“Anakku cuma 4 orang. Pergi kamu pergi dari sini…..!”

Doni diusir dari rumah. Dia adalah anak ke-5 dari 5 bersaudara. Ayahnya sudah tidak menganggap dia sebagai anak lagi. Pulang atau tidak sudah tidak diharapkan lagi oleh keluarganya. Kenakalannya yang menurut orang tuanya sudah diambang batas, membuat dia diusir dari rumah, dianggap tidak ada. Hidup mati sudah tak penting.


Rasa sedih dan sakit hati itu membuat Doni terjerembab lebih dalam dalam kehidupan liar di luar rumah. Itu juga yang membentuk aura preman-nya. Sampai suatu saat dia bertemu dengan orang yang menjalankan bisnis MLM.

Doni kemudian bergabung. Energi dan sakit hatinya tersalurkan disana. Dia mendapatkan coaching dari Mr. Kim, yang punya posisi cukup tinggi, dan memiliki seribuan downline. Mr. Kim membimbing bukan hanya tentang bisnis MLM, tapi juga bagaimana bersikap sebagai manusia.

Diantara hampir seribuan downline (anak buah), Doni adalah salah satu yang paling gigih memprospek orang, walaupun hasilnya belum ada yang closing. rupanya Doni memiliki—kalau kata teman-temannya—aura preman. Jadi, mengenakan baju serapi apa pun, dipakaikan dasi, orang tetap merasakannya sebagai preman. Makanya dia kesulitan mendapatkan donwline.

Ketika diadakan appreciation night, malam apresiasi (biasanya) untuk yang sukses menjalankan bisnis MLM. Setelah puluhan orang mengungkapkan testimoni kesuksesaannya, maka Mr. Kim menghadirkan ‘surprise’ dengan menampilkan seseorang…

“Berikut akan hadir di hadapan kita, seorang yang ngga pernaha closing, ngga punya downline, tapi terus gigih berjuang…. Kita sambut..Doni…..!”

Seribuan orang hening. Senyap.

Surprise. Karena Doni yang selama ini mereka kenal, sebagian menjadikannya sebagai bahan ejekan. Keheningan kemudian pecah, ketika beberapa orang mulai meneriakkan nama Doni.

“Doni..Doni..Doni…!” diiringi ratusan orang lainnya.

Mr. Kim rupanya mendatangkan Ibunda Doni, tak terlihat dari panggung. Ketika mendengar nama anaknya disebut-sebut. Ekspresinya berubah. Menyadari bahwa anaknya menjadi bagian dari malam itu. Menjadi seseorang.

Doni maju ke panggung. Langkahnya mantap.

Doni mulai bicara. Suaranya bergetar. Suasana sangat hening. Bagai di kuburan.

“Saya… berdiri di depan sini, hanya ingin membuktikan kepada orang tua saya, bahwa ada anak kelima mereka yang berusaha untuk tetap hidup, menjadi lebih baik dan paling penting… ingin kembali ke rumah untuk menjadi bagian dari keluarga. Sebenci apa pun mereka kepada saya, saya tetap mencintai mereka.”

Suaranya makin bergetar. Beberapa orang di gedung itu mulai menyeka airmatanya. Beberapa terisak.

“Utamanya buat Ibu saya… semoga Ibu masih punya sedikit saja cinta untuk saya.” Doni mengakhiri testimoninya dan turun dari panggung.

Rupanya surprise berlanjut. Lampu tiba-tiba padam. Lampu ‘sorot’ hanya menyinari ke dua titik. Satu titik ke Doni yang berjalan turun, dan titik satu lagi ke Ibunda Doni yang berjalan naik panggung.

Ketika dua titik itu bertemu…. Doni bersimpuh di kaki ibunya. Ibunya membungkuk dan memeluk dengan sangat erat. Pelukan yang merangkul hati. Pengakuan..kamu anakku, Ibu mencintaimu.

Tak ada kata-kata. Yang terdengar hanya tangisan diringi tumpahan air mata.

Doni dan Ibunya tidak berdua saja menangis. Semua orang di gedung itu pun menangis.

Beberapa tahun kemudian…

Doni memang tidak melanjutkan bisnisnya dengan MLM itu, dia pindah ke MLM lain, dan kini dia menjadi top leader di sebuah kota besar di Indonesia. Setiap orang yang bertanya tentang kunci suksesnya, Doni selalu menjawab…

“Ikhlasnya Ibu saya berdo’a”.

Do’a ibunya yang jadi password kesuksesan Doni.

Mengingatkannya pada malam apresiasi yang luar biasa. Rupanya sejak itu, Ibu Doni yang sudah ‘terbeli hatinya’ senantiasa berdo’a untuk kesuksesan Doni. Hati ibunya memang tidak bersudut, sehingga mudah tersentuh dari sisi manapun. Sentuhan itu akan membuat hati memancarkan keikhlasan ke alam semesta, dan menjawabnya dengan rupa yang tidak terduga.

Seringkali sekeras apa pun usaha seseorang, tidak menemukan jalan sukses. Sukses memiliki banyak dimensi. Kegigihan saja kadang tidak berbuah sukses, tapi dengan keihklasan seorang Ibu berdo’a, kelapangan pun segera terbuka.

Thank’s for the story, ‘Mr. Kim’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: