Renungan Manusia Kereta

dari http://ehardjanto.blogdetik.com/category/renungan/

Pemimpin Adalah Pelayan Bagi Rakyatnya

***

Jakarta setelah pukul 5 sore, wajah-wajah lelah penuhi stasiun kota. Pakuan Express lewat 5 menit, Aku tunggu kereta ekonomi delapan gerbong, buatan Jepang, sudah sangat tua. Di sisi stasiun, jalan raya Sudirman padat bau asap menyengat. Kendaraan merayap perlahan, bis kota miring ke kiri, tak ada yang peduli. Di dalam kereta, tak ada celah lagi, aku berdiri dekat pintu, sambil berharap angin segar menerpa wajah membuang bau. Manusia berjejal bagaikan sampah, di bawah sana Mercedez mewah melintas tak mau tahu.

Satu jam setengah perjalanan menuju rumah dimulailah cerita yang lain. Tak ada cerita kenyamanan, hanya wajah kusam di hadapan, diselingi lalu lalang penjaja makanan. Sekumpulan orang di pojok gerbong sempat-sempatnya menggelar tikar koran, duduk di lantai kotor kereta saling berhadapan. Dengan tawa dan canda mereka bermain domino mencari hiburan. Aku masih berdiri dekat pintu, terhimpit, semakin lama semakin terbawa ke dalam. Tak kuasa menahan arus masuk penumpang, di setiap stasiun deras menerjang.

Sepertiga perjalanan, Stasiun Kalibata, keringat mengucur deras. Wajah-wajah menegak ke atas, mulut megap-megap mencari nafas. Panas, berdesakan, seperti sekumpulan ikan. Basah sudah baju kemeja khas seorang konsultan, Aku tak peduli karena memang tak ada transportasi pilihan. Di bawah kaki-kaki berdiri menegang, seorang anak lusuh berlutut mengais sampah, membersihkan lantai kereta dengan selembar koran. Berharap uluran tangan penumpang sejumlah uang.

Dari kejauhan dalam kereta terdengar suara samar-samar sendu, seorang ibu dengan mata buta menyanyikan sebuah lagu. Sebuah lagu entah apa, dia berharap belas iba. Sang ibu itu tanpa mata menggendong seorang bayi lugu, semua penumpang termangu bisu. Serentak beberapa tangan memberi uang recehan, berharap sang ibu teringankan dari beban.

Di Stasiun Pasar Minggu kereta berhenti lagi, arus masuk penumpang masih tak berkurang. Kondektur kereta, petugas PT. KAI, datang berdua, masuk ke dalam gerbong siap memeriksa. Kondektur meminta tiket kereta kepada setiap penumpang, penumpang bergeming, kondektur tak kuasa. Sebagian lain dengan wajah ngantuk pura-pura, membuang muka dari kondektur sambil berkata, ”Abu”, Abunement maksudnya. Sekali lagi kondektur tak kuasa memaksa. Aku tak berprasangka, walau sekian banyak penumpang mengatakan hal yang sama, ”Abu”. Kondektur lewat berjalan, seorang penumpang nyeletuk lucu, ” Abu, Abu Bakar kaliii..”. Aku tergelak menahan tawa, ‘ah ada-ada saja.

Kondektur masih memeriksa, di sudut gerbong sana seorang bapak mengeluarkan selembar uang ribuan, sebagai pengganti tiket yang tak dibeli. Untung-untungan, siapa tahu kondektur tak memeriksa hari ini. Uang ribuan masuk kantong kondektur, lagi-lagi aku tak mau berprasangka, semua penumpang sudah memaklumi.

Stasiun Depok lewat, gerbong kereta semakin lowong. Udara segar kembali menghembus badan dari jendela kereta yang bolong. Setelah satu jam perjalanan, aku rebahkan badan renggangkan kaki di tempat duduk kosong. Sekumpulan mahasiswa UI bekumpul di ujung gerbong, memepet tas pinggang mereka di depan badan, takut pencopet. Kereta terus melaju kencang, jarak antara stasiun sekarang semakin renggang. Menunggu tiga puluh menit sisa waktu perjalanan menuju stasiun akhir tujuan, Stasiun Bogor Kota Beriman.

Sekelumit cerita kehidupan manusia kereta, antara Bogor dan Jakarta. Setiap hari terulang tanpa ada jeda. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bertahun-tahun demikianlah adanya. Aku sering merenung, ini salah siapa. Tak ada jawaban pasti hanya teringat ajaran agama, ”Pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: